Malaikat
Tak semilidetik pun aku mengerjap. Kamu begitu indah memuisikan gerak tubuhmu. Suaramu ritmis, tarianmu melodius. Aku terpukau.
Kamulah bintang dalam perhelatan drama tari di Goethe Haus malam itu. Aku menghampirimu ke belakang panggung dengan sejumput senyum. Matamu berpendar-pendar.
“You’re an angel, love,” bisikku. Kita – aku dan kamu, bibirku dan bibirmu, hatiku dan hatimu – saling mengecup. Hangat.
Sayangnya, kita hanya hidup tiga hari lagi. Setelah itu, kita tak lebih dari secuil masa lalu.
Mati.