Demimu
Aku dibangunkan oleh pikiran tentangmu yang masih saja berseliweran di kepala. Pikiran itu mengepung bidak-bidak pertahananku, mengeluarkannya dari permainan, dan…
Skakmat! Hatiku telah terebut.
“Good morning.”
Siapa nyana justru kamu yang menghubungiku lebih dulu. Mungkinkah kamu juga merasakan yang kurasakan? Apa pun itu, kamu tak perlu ragu untuk mencintaiku. Geledah hatiku dan temukan namamu bercokol di pusatnya.
Tak usah kamu gamang. Kini, untuk meyakinkanmu, kutaruh hatiku di casino kehidupan lalu mempertaruhkannya. Untukmu dan demimu.
Sekalipun kamu bimbang, tak sekali pun aku urung. Tak semilidetik pun.