Aksen
“Hey, Johnny.”
Kamu mengangkat telepon dariku di dering ketiga. Aksenmu lucu sekali, memanggil rindu merasuk jiwa. Seketika, menit-menit yang kita habiskan di Kopi Selasar seolah terputar ulang, di mana langit-langit kamarku menjadi layarnya dan langit hatiku menjadi saksinya.
Musik light jazz lamat-lamat terdengar, melatarbelakangi percakapan kita. “Kamu lagi dengar apa?” tanyaku, penasaran. “Jane Monheit.”
Akhirnya, setelah tiga puluh menit melepas kangen, kita membuat janji temu.
Malam ini.