Tritunggal
Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, aku masih menulis setelah semalaman terjaga. Secangkir kopi di bibir meja, sebatang rokok di ujung bibir. Aku kecanduan – kopi, rokok, menulis – sejak tak tahu kapan.
Dengan menulis, aku bisa memperdebatkan berbagai hal dengan kehidupan, lalu saling mendebat. Aku pun sanggup menghalau sepi sebelum ia menyergap, apalagi membekap.
Kami – aku, huruf, kehidupan – adalah tritunggal. Tiga tapi satu. Seperti Tuhannya umat Nasrani.
Kini, kamu hadir, meski baru dalam anganan, untuk menggenapi ketritunggalan itu.