June 2010
9 posts
1 tag
Pulang
Love taught me to lie Life taught me to die Damien Rice – Cannonball Aku hanya ingin menahanmu sejenak, bukan mempertahankanmu. Kamu toh tetap harus pergi. Aku telah membeli waktu berkat kehandalanku menyetir. Kini, kita punya satu jam sebelum boarding time. Kita duduk berhadapan. Kamu sedih, aku pedih. Gerimis pun menangis untuk kita. “I’m really gonna miss you, love.” Entah bagaimana menjawab...
Jun 21st
1 tag
Yes, you are an angel…
Jun 21st
1 tag
Malaikat
Tak semilidetik pun aku mengerjap. Kamu begitu indah memuisikan gerak tubuhmu. Suaramu ritmis, tarianmu melodius. Aku terpukau. Kamulah bintang dalam perhelatan drama tari di Goethe Haus malam itu. Aku menghampirimu ke belakang panggung dengan sejumput senyum. Matamu berpendar-pendar. “You’re an angel, love,” bisikku. Kita – aku dan kamu, bibirku dan bibirmu, hatiku dan hatimu – saling mengecup....
Jun 21st
1 tag
Gulana
Ini kali pertama aku singgah di apartemenmu. Tiba-tiba kamu keluar dari dapur dan menghidangkan sirloin steak yang dimasak medium-well, persis kesukaanku. Tak kusangka kamu memerhatikan dan merekam baik-baik semua ucapanku tatkala kita bicara kita. Betapa ingin kukekalkan menit-menit bersamamu. Lihatlah bagaimana kita memperindah dan mengindahkan waktu. Mempercantik tanpa memedulikan lajunya yang...
Jun 20th
1 tag
Demimu
Aku dibangunkan oleh pikiran tentangmu yang masih saja berseliweran di kepala. Pikiran itu mengepung bidak-bidak pertahananku, mengeluarkannya dari permainan, dan… Skakmat! Hatiku telah terebut. “Good morning.” Siapa nyana justru kamu yang menghubungiku lebih dulu. Mungkinkah kamu juga merasakan yang kurasakan? Apa pun itu, kamu tak perlu ragu untuk mencintaiku. Geledah hatiku dan temukan namamu...
Jun 19th
1 tag
Pesona
Mataku mencarimu di sebuah lounge eksotis di jantung Jakarta. Kadar adrenalin dalam tubuhku melonjak drastis. Lebih meledak-ledak ketimbang tadi, ketika aku menyisir kawasan Sudirman yang padat-merayap. Kamu melambaikan tangan, pertanda bahwa kamu hadir dan menantiku. Ah, kamu cantik sekali malam itu. Aku sampai mengerahkan segenap kemampuanku untuk tetap tenang dan meredam histeria yang melampaui...
Jun 19th
1 tag
Aksen
“Hey, Johnny.” Kamu mengangkat telepon dariku di dering ketiga. Aksenmu lucu sekali, memanggil rindu merasuk jiwa. Seketika, menit-menit yang kita habiskan di Kopi Selasar seolah terputar ulang, di mana langit-langit kamarku menjadi layarnya dan langit hatiku menjadi saksinya. Musik light jazz lamat-lamat terdengar, melatarbelakangi percakapan kita. “Kamu lagi dengar apa?” tanyaku, penasaran....
Jun 18th
1 tag
Tritunggal
Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, aku masih menulis setelah semalaman terjaga. Secangkir kopi di bibir meja, sebatang rokok di ujung bibir. Aku kecanduan – kopi, rokok, menulis – sejak tak tahu kapan. Dengan menulis, aku bisa memperdebatkan berbagai hal dengan kehidupan, lalu saling mendebat. Aku pun sanggup menghalau sepi sebelum ia menyergap, apalagi membekap. Kami – aku, huruf, kehidupan...
Jun 18th
1 tag
Selasar
Aku memperkenalkan diri setelah mengenali pandangan matamu yang khas perempuan, yang memerhatikanku sedari tadi. “May I offer you a cigarette?” ujarku. Kamu mengambil sebatang, tersipu. “Aku orang Indonesia, kok.” Wajah dan perangaimu lebih mirip turis ketimbang penduduk asli. Namun, rambut hitammu sedikit menjelaskan darah Indonesiamu, meski tetap saja kamu lebih cocok jadi bule. “Samantha,”...
Jun 18th