elianisme

mempertemukan kata, menemukan makna

Notes

Pulang

Love taught me to lie
Life taught me to die

Damien Rice – Cannonball

Aku hanya ingin menahanmu sejenak, bukan mempertahankanmu. Kamu toh tetap harus pergi.

Aku telah membeli waktu berkat kehandalanku menyetir. Kini, kita punya satu jam sebelum boarding time. Kita duduk berhadapan. Kamu sedih, aku pedih. Gerimis pun menangis untuk kita.

I’m really gonna miss you, love.”

Entah bagaimana menjawab kata-kata itu. Kita tetap harus berpisah, kan? Kamu tahu percintaan ini tak mungkin bertahan, namun kamu melambungkan harapanku. Kamu tak hirau. Aku tak paham.

Sudah waktunya. Aku menyentuh halus punggung tanganmu sebelum kamu benar-benar memunggungiku. Kamu harus pulang. Dan aku tak cukup istimewa untuk menjadi rumah yang kamu tuju.

Kamu berjalan. Menoleh tiga kali.

Hilang.

Filed under Perempuan Balerina

0 notes

Malaikat

Tak semilidetik pun aku mengerjap. Kamu begitu indah memuisikan gerak tubuhmu. Suaramu ritmis, tarianmu melodius. Aku terpukau.

Kamulah bintang dalam perhelatan drama tari di Goethe Haus malam itu. Aku menghampirimu ke belakang panggung dengan sejumput senyum. Matamu berpendar-pendar.

You’re an angel, love,” bisikku. Kita – aku dan kamu, bibirku dan bibirmu, hatiku dan hatimu – saling mengecup. Hangat.

Sayangnya, kita hanya hidup tiga hari lagi. Setelah itu, kita tak lebih dari secuil masa lalu.

Mati.

Filed under Perempuan Balerina

Notes

Gulana

Ini kali pertama aku singgah di apartemenmu. Tiba-tiba kamu keluar dari dapur dan menghidangkan sirloin steak yang dimasak medium-well, persis kesukaanku. Tak kusangka kamu memerhatikan dan merekam baik-baik semua ucapanku tatkala kita bicara kita.

Betapa ingin kukekalkan menit-menit bersamamu. Lihatlah bagaimana kita memperindah dan mengindahkan waktu. Mempercantik tanpa memedulikan lajunya yang mungkin menggilas.

John, I hate to tell you this but I have to. Don’t love me. I’m going home next week.”

“To France? Why didn’t you tell me before?”

“I didn’t think I had to. But now, you deserve to know. You’re my lover, aren’t you?”

Kesunyian hinggap di tengah ruangan. Sebagian dari hatiku meronta dan mengejang. Mulutku terkatup, lalu menganga. Aku terperanjat, lalu terheran-heran.

Kini, dalam keadaan ini, apa yang harus kulakukan? Gulana ini terlalu deras menggelontor jiwa. Shit!

Jadi, ini alasanmu membuatkan sirloin steak untukku?

Filed under Perempuan Balerina

Notes

Demimu

Aku dibangunkan oleh pikiran tentangmu yang masih saja berseliweran di kepala. Pikiran itu mengepung bidak-bidak pertahananku, mengeluarkannya dari permainan, dan…

Skakmat! Hatiku telah terebut.

Good morning.”

Siapa nyana justru kamu yang menghubungiku lebih dulu. Mungkinkah kamu juga merasakan yang kurasakan? Apa pun itu, kamu tak perlu ragu untuk mencintaiku. Geledah hatiku dan temukan namamu bercokol di pusatnya.

Tak usah kamu gamang. Kini, untuk meyakinkanmu, kutaruh hatiku di casino kehidupan lalu mempertaruhkannya. Untukmu dan demimu.

Sekalipun kamu bimbang, tak sekali pun aku urung. Tak semilidetik pun.

Filed under Perempuan Balerina

Notes

Pesona

Mataku mencarimu di sebuah lounge eksotis di jantung Jakarta. Kadar adrenalin dalam tubuhku melonjak drastis. Lebih meledak-ledak ketimbang tadi, ketika aku menyisir kawasan Sudirman yang padat-merayap.

Kamu melambaikan tangan, pertanda bahwa kamu hadir dan menantiku. Ah, kamu cantik sekali malam itu. Aku sampai mengerahkan segenap kemampuanku untuk tetap tenang dan meredam histeria yang melampaui takaran wajar.

Here we are, looking at each other for the second time… setelah pertemuan tak terduga di Kopi Selasar.”

Kamu berkali-kali memainkan pesonamu, semoga bukan untuk mempermainkan perasaanku. Kita mulai berbincang tentang kita – hidupmu, hidupku, dan remeh temeh di dalamnya – dengan iringan musik dari home band yang tak terlalu bagus. Setidaknya, lebih baik dari suaraku tatkala reriungan menyanyi dengan teman-teman.

Call me anytime you want.”

Tiga jam berlalu. Entah berapa gelas wine telah kita habiskan. Akhirnya, kamu harus pulang.

Aku pun pulang, meski tak harus. Dan tak ingin.

Filed under Perempuan Balerina

0 notes

Aksen

“Hey, Johnny.”

Kamu mengangkat telepon dariku di dering ketiga. Aksenmu lucu sekali, memanggil rindu merasuk jiwa. Seketika, menit-menit yang kita habiskan di Kopi Selasar seolah terputar ulang, di mana langit-langit kamarku menjadi layarnya dan langit hatiku menjadi saksinya.

Musik light jazz lamat-lamat terdengar, melatarbelakangi percakapan kita. “Kamu lagi dengar apa?” tanyaku, penasaran. “Jane Monheit.”

Akhirnya, setelah tiga puluh menit melepas kangen, kita membuat janji temu.

Malam ini.   

Filed under Perempuan Balerina

Notes

Tritunggal

Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, aku masih menulis setelah semalaman terjaga. Secangkir kopi di bibir meja, sebatang rokok di ujung bibir. Aku kecanduan – kopi, rokok, menulis – sejak tak tahu kapan.

Dengan menulis, aku bisa memperdebatkan berbagai hal dengan kehidupan, lalu saling mendebat. Aku pun sanggup menghalau sepi sebelum ia menyergap, apalagi membekap.

Kami – aku, huruf, kehidupan – adalah tritunggal. Tiga tapi satu. Seperti Tuhannya umat Nasrani.

Kini, kamu hadir, meski baru dalam anganan, untuk menggenapi ketritunggalan itu.

Filed under Perempuan Balerina

Notes

Selasar

Aku memperkenalkan diri setelah mengenali pandangan matamu yang khas perempuan, yang memerhatikanku sedari tadi. “May I offer you a cigarette?” ujarku. Kamu mengambil sebatang, tersipu.

“Aku orang Indonesia, kok.”

Wajah dan perangaimu lebih mirip turis ketimbang penduduk asli. Namun, rambut hitammu sedikit menjelaskan darah Indonesiamu, meski tetap saja kamu lebih cocok jadi bule. “Samantha,” katamu, sembari menyodorkan tangan.

“John.” Berbeda denganku, namamu kebarat-baratan karena ibumu memang orang Perancis. Sedangkan namaku berawal dari ketertarikan ibuku terhadap Bible, kitab suci Nasrani.

Aku selalu takluk pada perempuan gelap dan artistik. Jaket hitam dan novel Paulo Coelho-mu, mencuatkan kesan itu. Tak perlu pencahayaan yang baik untuk membuatmu bersinar. Auramu toh sudah menyala benderang.

Kopi Selasar di Selasar Sunaryo art space adalah tempat perjumpaan itu.

Filed under Perempuan Balerina